Senyum Ayah

Posted in cErpEn on Juni 30, 2008 by amelku

Aku harap-harap cemas, besok pembagian rapor. Selama aku bersekolah di SD 01 aku tidak pernah mendapat ranking 10 besar. Ibu selalu malas pergi ke sekolahku. Malu, ujar beliau. Terpaksa setiap pembagian rapor, aku selalu berbohong kepada wali kelas kalau orang tuaku keluar kota. Yah demikianlah dustaku selama 5 tahun.
Sekarang aku kelas enam, ini penerimaan rapor caturwulan 1. Aku harus mengarang cerita tentang orang tuaku yang tidak bisa memngambil rapor. Tidurku gelisah karenanya. Tempat tidurku sudah berantakan karena gusar, tidak dapat ide buat alasan besok. Jam 2 pagi aku tertidur.
Esoknya aku bangun dengan enggan. Ingin rasanya tidak pergi ke sekolah. Belum membayangkan nilai rapor yang rendah. Duh… malangnya nasibku. Andai saja aku peringkat kelas pasti ibu ingin menjemput raporku.
Dengan langkah terseok aku berjalan menuju rumah tempat aku dididik dari yang tidak tahu menjadi tahu. Setelah orang tua murid pulang, aku mendekati wali kelasku beliau tersenyum dan berujar, ” mana ibumu nak? Menyesal beliau tidak datang hari ini. Karena kau mendapat …”
Beliau menggantungkan kalimatnya, ” Kau mendapat peringkat pertama. Selamat nak!”
Aku mengambil raporku dari tangan guruku, setelah itu aku mohon pamit pulang. Aku berlari sekencang-kencangnya menuju rumah, tidak kuhiraukan sepatuku yang copot sebelah. Tekadku cuman satu ingin bertemu Ayah dan Ibu. Ingin melihat senyum mereka atas prestasiku. Sampai di rumah aku perlihatkan rapor kepada ibu, tergagapku berujar,
”A …a.. ana da..pat..”
Tidak sabar ibu mengambil rapor ditanganku, beliau tertegun melihat peringkat yang tertera diraporku. Beliau menangis haru dan merangkulku,
” Ibu bangga padamu nak”
Ayah datang dan terheran melihat drama didepannya. Beliau mengambil rapor dari tangan ibu, dan berujar, ”Anak Ayah.”
Beliau menggendongku dan berlari keluar.
”Anakku juara satu”
Ayah menggendongku keliling kampung, aku malu sekaligus terharu atas perlakuan ayah terhadapku. Hanya nilai raporku yang bisa membahagiakannya. Senyum Ayah dan Ibu menghangatkan jiwaku. Karena mendapat peringkat aku dimanja oleh Ayah dan Ibu. Kakak dan Abangku banyak memberi hadiah.
Terlena aku dibuatnya, sehingga tak terasa caturwulan 2 telah tiba. Aku sudah sombong dengan prestasi yang telah kudapat. Belajarpun aku tidak bersungguh-sungguh.
Esok aku akan menerima rapor caw  2, Ibu sudah menyiapkan pakaiannya untuk menjemput raporku. Tidak lupa ibu membuat kue bolu untuk wali kelasku. Aku dan ibu datang lebih awal, kami duduk dibarisan paling depan. Ini saatnya, wali kelasku memberikan pidato singkat dan mengumumkan peringkat dari rangking satu sampai sepuluh.
”Baiklah rangking satu di raih oleh anak kita, Ratu Aurel”
”Juara dua diraih oleh…..”
Sampai rangking tiga namaku belum juga terpanggil. Ibu meninggalkan kelas dengan hati terluka, harapannya pupus karena aku. Ayah dan saudaraku sudah menunggu di rumah.
”Anak Ayah rangking satu kan?” tanya Ayah
Aku langsung masuk ke kamar, dikamar aku menangis sejadinya. Aku telah menghilangkan senyum bangga Ayah dan Ibu terhadapku. Aku malu terhadapan diri sendiri, karena kepongahanku berakhir pahit. Ayah menghampiriku beliau membelai rambutku.
”Ana tetap membuat Ayah bangga, jangan nangis nak…”
Ucapan Ayah semakin menambah penderitaanku. Kejam sekali rasanya membalas kasihsayang Ayah dengan nilai raporku yang membuat senyumnya pudar dari wajah rentanya.
”Ayah maafkan anakmu ini, yang telah menambah dukamu,”ucapku sesunggukkan.
Ayah membenamkan wajahku kepelukannya. Hangat hawa tubuh beliau mebuatku nyaman, ku merasa terlindungi. Aku menengadah dan menatap wajahnya, dan melihat air mata membasahi pipinya.
”Ana selalu sayang Ayah, makasih Ayah” sembari mencium tangan beliau

Hello world!

Posted in Uncategorized on Mei 18, 2008 by amelku

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!